[GIVEAWAY] #BloggerPeduliMasaDepan



Foto: Pinterest

 Hello! Welcome to my first giveaway, buddies...!!!

Penasaran nggak sih kenapa tiba-tiba saya bikin giveaway? Sebenarnya pengen banget ya bikin giveaway dari tahun lalu. Semacam perayaan rasa syukur karena udah lulus abis ujian tesis. Kemudian tertunda lagi sampe saya merayakan hari kelahiran. Terus harus ditunda lagi sampe saya wisuda. Dan semua itu selain karena saya berada di the lost world yang susah banget sinyal dan dikejar-kejar T-Rex terus, juga karena saya belum mampu ngasih hadiah yang berarti.

Nah, sekarang saya udah menggandeng teman-teman kece yang super baik banget karena bersedia untuk jadi sponsor #BloggerPeduliMasaDepan. Terimakasih, teman-teman!

#BloggerPeduliMasaDepan Waste To Energy (Day 29)



Melalui program Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAD-GRK) pemerintah berusaha menurunkan dampak negatif emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari aktivitas manusia dengan melakukan konservasi terutama pada daerah-daerah penyangga. Keberadaan daerah penyangga sangat penting bagi keberlangsungan hidup dan pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat Bandung. Konservasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cikapundung dan Citarum sangat penting dilakukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan meningkatkan daya dukung lingkungan. Pemerintah Kota Bandung menetapkan Sungai Cikapundung dan Sungai Citarum dalam salah satu prioritas program kegiatan dalam rencana pembangunan, baik jangka menengah (2009-2013) dan jangka panjang (2005-2025). Rehabilitasi Sungai Cikapundung dicanangkan melalui program Gerakan Cikapundung Bersih yang didukung oleh Pemerintah Propinsi Jawa Barat dan Pemerintah Pusat.

#BloggerPeduliMasaDepan Ayo Pilah Sampah dari Rumah (Day 28)




"Rata-rata orang menghasilkan sampah 600 gram per hari. 55 persensampah organik, 15 persen sampah kertas, 15 persen plastik, sisanya kayu, baterai dan lain-lain. Kalau kita bisa memilahnya dengan baik, setidaknya kita bias mengurangi sampah hingga 80 persen," ( Head of Green Comitte Nutrifood sekaligus Head of Marketing Division, Angelique Dewi Permatasari seperti yang ditulis dalam m.liputan6.com/health/read/2190892/ini-untungnya-memilah-sampah-organik-dan-non-organik).

Sampah memang menimbulkan masalah tersendiri, kalau aku jalan-jalan ke kota sebelah itu, banyak kulihat di tempat-tempat umum sampah berceceran, sungai dan got penuh sampah, di TPS sampah menumpuk belum keangkut dengan bau yang menyengat. Apalagi kalau berkunjung ke TPA, wuuh sampah menggunung gak kira-kira. Di Indonesia metode penanganan sampah yang digunakan memang baru sekedar menimbun sampah, belum metode mengolah sampah. Sebenarnya sudah banyak ya pabrik daur ulang, namun sepertinya belum maksimal, karena banyak dari kita yang melempar begitu saja sampah yang kita hasilkan ke tong sampah. Jadinya campur baur, banyak yang tak termanfaatkan.

#BloggerPeduliMasaDepan Hemat listrik (Day 27)


Hemat listrik, nih? Hmmm, hampir semua masyarakat perkotaan pasti ingin mengupayakannya. Tapi pernah nggak, merasa bosan dengan kelap-kelip lampu di kala malam, suara hingar-bingar televisi, pemutar musik, dering pesan yang masuk ke telepon genggam dan bahkan suara dengung AC atau lemari es.. pasti pernah kan kita ingin hening sejenak?

Mata kita tentu lelah melihat layar elektronik dan telinga kita capek dengar suara bising. Kalau Anda tidak merasa bosan, berarti cukup terlena dengan hiruk-pikuk benda-benda elektronik di sekitar Anda. Ya katakanlah sebagai penunjang kehidupan. Kita saat ini perlu koneksi internet 24 jam, seperti saya. Tapi saya tidak bisa terus melek 24 jam sehari menikmati barang-barang elektronik tersebut.

Pernah nggak coba tinggal di desa dengan keadaan yang tidak serumit dan sesibuk dan segemerlap kota... tenang. Bahkan ada desa yang belum mendapatkan listrik, ya kan.. tapi saya tidak bisa membayangkannya ha ha ha. Bisakah kita yang sudah kekinian ini hidup tanpa listrik? Kayaknya perlu upaya keras, toh? Nah, kebetulan Sabtu lalu tanggal 19 Maret baru aja ada Earth Hour, tuh. Memadamkan lampu serentak pukul 20.30-21.30 waktu setempat. Ini setau saya hanya satu jam dan dilaksanakan secara global. :)

Coba deh, kita ikut matikan lampu di rumah 1 jam ajaaa... Kalau saya sendiri kurang dari 1 jam udah nyalakan lampu jika perlu ke kamar mandi supaya tidak terpleset hehe.... tapi saat tidur saya bisa kok, tanpa lampu. Anak-anak saya pun mulai terbiasa. Justru mata jadi enak karena tidak terlalu silau. Tidak lupa steker televisi saya cabut dari colokan agar lampu led merahnya tidak stand by serta ponsel saya matikan. Kalau pas malam mengisi daya ponsel.. ponsel tidak saya posisikan stand by.

Agak susah ya matiin semua lampu apalagi saat ada anak-anak. Mereka peka juga soal gelap di kamar tidur atau terlalu terang. Nah, lain hal dengan satu jam saja matikan televisi dan gadget seperti ponsel pintar, komputer tablet atau game console? Coba, bisa ya? Ayo pasti bisa :)
Anak-anak juga kurang suka diabaikan dengan melihat orang tuanya utak-atik pegang ponselnya atau apalah yang buat anak jadi tidak mendapat senyum atau perhatian :).


Karena pengalaman saya, hari Nyepi 9 Maret kemarin hampir bisa. Ya, selama 1 hari. Kira-kira gampangnya begini.. saya mulai pukul 06.00 WITA hingga besoknya ya tanggal 10 Maret. 24 jam hampiiiiir bisa. Diisi kegiatan apa saja bersama keluarga..? Membaca buku cerita dengan anak, ajak melipat pakaiannya yang sudah dicuci dengan rapi, main mobil-mobilan atau kereta favorit anak, sedikit senam ringan, tidur siang dan lihat bintang saat malam, oh ya.. juga berusaha cuci piring pelan-pelaaaan sekali. Kami menjelaskan pula kepada anak pertama kami yang usianya hampir 3 tahun bahwa hari ini Nyepi, kita tidak bersuara keras, tidak nonton televisi dan tidak main keluar rumah. Lihat, semua orang disini diam di rumah dan menikmati hari dengan keheningan.

Saya pasti perlu memasak makanan anak-anak lalu masak air minum, air panas untuk air mandi mereka. Ya, itu dilakukan dini hari. Pagi-pagi banget agar pas hari Nyepi semua sudah rampung, air panas sudah dimasukkan termos, dan air untuk mandi anak-anak di taruh di panci ditutup kain-kain celemek agar vakum - paling tidak tetap hangat saat akan dipakai. Saat hari Nyepi dimulai sudah tinggal bermeditasi, introspeksi diri, baca-baca buku... :) atau istirahat saja, ya tepatnya setelah mengajak anak-anak bermain agar mereka tidak bosan.
Saya sempat diwanti-wanti oleh ibu mertua saya supaya tidak menyalakan kompor saat Nyepi. Maka dari itu ibu dan bapak mertua saya juga lah yang membantu menyiapkan memasak air dan masak telur rebus pagi-pagi banget hingga suami saya dibangunkan tapi saya yang bangun. Karena suami cukup letih juga, sih, jagain anak-anak.

Beribadah Sambil Berwisata Ceria Bersama Umroh Plus Turki Cheria Travel


turki
Foto: Cheria

Meski belum berhasil pergi ke Turki untuk melanjutkan studi jenjang Master (S2) pada jurusan environmental engineering di Turki especially di Middle East Technical University atau Orta DoÄźu Teknik Ăśniversitesi as the 100 best universities in the world saya tetap bersikukuh untuk pergi ke sana. Dulu saya pernah berharap bisa tinggal beberapa lama di Turki  dengan memenangi beasiswa Turkiye Burslari-Graduate and Research Scholarship yang tawarkan oleh Pemerintah Turki.

As people know, Turki adalah negeri yang cantik dengan pemandangan alam dan perkembangan teknologi yang mengagumkan. Terletak di kawasan Asia dan Eropa adalah karakteristik Turki yang tak dimiliki negara lain. Dimana saya bisa belajar tentang akulturasi, perkembangan teknologi dan juga perbedaan interaksi manusia di sana. Satu alasan yang tidak boleh kita lupa adalah tentang sejarah dari negara ini. As an evidence of the glory of this country is that Turkey is the country where Islam grew in the beginning of its civilization.

#BloggerPeduliMasaDepan Desa wisata/wisata edukasi/wisata alam (Day 25)



Muara Gembong: Potensi Ekowisata yang Terus Diperjuangkan


Jalanan yang tak mulus tidak sedikitpun menyurutkan semangat kami untuk mengunjungi daerah ujung Bekasi itu. Tak banyak yang mengetahui tempat tersebut. Atau lebih tepatnya tak banyak orang yang tahu kondisi daerah ini.
Adalah Muara Gembong atau biasa disingkat MUGO, merupakan daerah pesisir kota Bekasi - Jawa Barat. Dimana fasilitas umumnya tergolong sangat minim. Namun berkat sekelompok anak muda, kini Muara gembong sedang berbenah untuk menjadi salah satu tujuan wisata edukasi.
Saya berkunjung ke Muara Gembong pertama kali bersama rombongan dari BPJ (Backpacker Jakarta) di akhir tahun 2014. Tujuan utama kami waktu itu mangroving. Selain itu untuk melihat dari dekat salah satu satwa yang saat ini mulai langka dan dilindungi, Lutung Jawa, salah satu habitatnya ada di muara Bendera, Muara Gembong - Bekasi. Terpilihnya Muara Gembong sebagai tujuan kegiatan kami bukan tanpa alasan. Setiap musim hujan, nama Muara Gembong selalu disebut. Sebagai daerah langganan banjir. Usut punya usut, penyebabnya tak lain karena semakin berkurangnya tanaman pembatas kawasan laut dan pantai, yaitu mangrove.
Untuk sampai di Muara Gembong kita harus melewati jalanan seadanya. Off road kalau istilahnya anak-anak touring. Di kiri-kanannya terhampar empang yang cukup luas, sebagian milik perorangan dan sebagian milik badan usaha. 

Hamparan debu merupakan pemandangan yang tak asing saat musim panas. Sebaliknya memasuki musim hujan, genangan dimana-mana. Jika tak hati-hati roda kendaraan dapat tergelincir. Oya, jangan harap ada kendaraan umum yang bisa ditumpangi. Usahakan membawa motor, atau jika datang bersama rombongan bisa sewa mobil atau angkot.

#BloggerPeduliMasaDepan Cause We All Live Under The Same Sun (Day 24)

Terompet panjang kapal ferry penyeberangan Merak - Bahauheni baru saja berbunyi. Semua penumpang bergegas membereskan barang bawaannya dan antre keluar kabin penumpang. Yang membawa kendaraan segera menuju kendaraannya masing-masing. Deru mesin mobil mulai terdengar. Semua kendaraan antre di mulut kapal, menunggu giliran petugas mengarahkan pengemudi menuruni plat baja.  Proses sandar memerlukan waktu sedikit lebih lama. Matahari bersinar terik, keringat pun mulai mengalir di wajah. Sebagian pengemudi membuka jendela kaca mobilnya membiarkan hembusan angin masuk. Klakson mobil mulai terdengar bersahutan, ketika tiba-tiba sebuah benda putih melayang dan akhirnya tercebur ke perairan. Ah, ternyata sampah dalam kantung plastik putih!

#BloggerPeduliMasaDepan Desa mandiri energi (Day 23)

Pekerjaan saya yang sebelumnya menuntut saya untuk selalu mobile. Bahkan harus naik turun gunung. Kenapa? Kebetulan kabupaten tempat tinggal saya merupakan daerah pegunungan. Banyak pengalaman baru yang saya peroleh saat melakukan “petualangan” tersebut. Sengaja saya menyebutnya “berpetualang” agar tidak menjadi beban. Namun saya bersyukur bisa bertemu dengan orang-orang baru dan saling berbagi cerita.

Salah satu pengalaman menarik, saat saya berkunjung ke kecamatan Suoh Kabupaten Lampung Barat. Bayangkan! Saya (seorang perempuan), harus berjuang berjam-jam di atas motor dengan kondisi jalan tanah yang sangat berlumpur. Diwarnai dengan tanjakan dan turunan terjal. Tebalnya lumpur tak jarang membuat motor yang kami kendarai terjerembab. Beberapa kali saya harus turun dari motor supaya tidak terjatuh. Melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Kira-kira jalan terlihat cukup, saya pun menaiki motor. Begitu seterusnya.

Kondisi jalan yang sangat buruk membuat  kecamatan ini “terisolasi. Sepanjang perjalanan timbul dalam benak saya, “apakah ada kehidupan masyarakat di sana?”

#BloggerPeduliMasaDepan Desa Mandiri Pangan; Titik Awal Kesejahteraan Masyarakat (Day 22)






Nyaris setahun lalu, saat tau dipindahkan ke radio cabang di kabupaten, rasanya aku ogah-ogahan banget. Udah kebayang nggak bakal bisa ngemall lagi, kongkow-kongkow di gerai fastfood, ato sekedar nyicipin es krim di kedai yang baru buka. Haduh. Hilang sudah keseruan hidup!

Eh tapi, ibuku bilang, saat punya kesempatan tinggal di desa, itu artinya kita bakal punya kesempatan lebih buat bisa menyimpan pundi-pundi rupiah. Dibandingkan sama tinggal di kota, yang apa-apa serba bayar, apa-apa serba beli, di desa jauh lebih ramah. Asal mau usaha dikit aja, dijamin ga bakal kelaparan, uang gaji bisa dihemat sehemat-hematnya.

Apa benar?

#BloggerPeduliMasaDepan Apa Kabar Lahan Anda? (Day 21)



Ketika topik tentang perkebunan atau pertanian diangkat pasti hal pertama yang muncul dibenak adalah perkebunan yang luas sampai berhektar-hektar seperti kebun teh, kopi dan semacamnya atau pertanian yang di kerjakan di sawah yang cukup luas. Membicarakan soal perkebunan dan/ pertanian berkelanjutan terlalu rumit untuk dijabarkan secara teoritis apalagi oleh orang-orang yang awam akan hal tersebut. Pada intinya yang terpenting dalam pertanian berkelanjutan itu adalah praktiknya. Secara sederhana, praktik pada pertanian berkelanjutan haruslah produktif, sehat, dan aman. Produktif yaitu menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi urusan pangan manusia, sehat tanpa menggunakan bahan-bahan kimia seperti pupuk buatan, dan aman bagi lingkungan.

Kali ini saya akan membagikan praktik pertanian berkelanjutan di daerah tempat tinggal saya (Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang). Saya tinggal di daerah perkebunan kopi yang merupakan salah satu milik badan usaha negara. Tapi bukan perkebunan kopi yang ingin saya ceritakan disini melainkan cara masing-masing keluarga mempertahankan kebiasaan bercocok tanamnya. Tiap rumah memiliki lahan petak yang terletak di halaman depan yang luasnya berkisar antara 4m2 sampai 9m2. Tidak begitu luas memang, namun cukup ntuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.

Tentang Kutu Buku Bernama Asri Rahayu



Hallo, kenalin nama aku Asri Rahayu MS. Kalau di luar rumah biasa dipanggil Asri. Usia nggak penting ya buat dikonsumsi publik *LOL*. Aku lahir dan besar di Kota Yogyakarta tercinta. Lahir di bulan Mei *perlu tanggal? Siapa tau masu ngasih kado* Aku kerja di salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang jasa. Hobiku membaca dan menulis. Dan dari hobi tersebut akhirnya aku memutuskan untuk buat blog khusus buku karena suka ngereview. Kalau untuk blog harianku ada di asthrella.blogspot.co.id. (sekarang asrirahayu.com) please jangan tanya,  kenapa masih gratisan dan belum beli domain. Masih berpikiran duit beli domainmending buat beli buku atau jajan makanan *LOL*.

#BloggerPeduliMasaDepan Sistem Pertanian Terpadu Ramah Lingkungan (Day 20)




Suatu hari saya mengunjungi petani binaan yang ada di Desa Cikarawang. Kunjungan saya saat itu bertempat di kelompok tani jambu Kristal. Ada satu hal menarik yang saya amati saat itu. Pak Badri, ketua kelompok jambu kristal sedang merapihkan halaman rumahnya yang cukup luas untuk menerapkan sistem pertanian terpadu. Di lahan seluas 2000 meter, Pak Badri dapat membangun kandang sapi, kolam ikan dan membuat pembibitan beberapa tanaman jambu serta tanaman buah lainnya. Pak Badri kemudian mengintegrasikan sektor pertanian, perikanan dan peternakan menjadi sebuah sistem yang dinamakan dengan sistem pertanian terpadu. Berikut adalah cara Pak Badri mengintegrasikan ketiga sektor tersebut:

  1. Sektor peternakan: Pak Badri memanfaatkan gulma (tanaman pengganggu) yang ada di sekitar kebun miliknya sebagai pakan ternak. Kemudian hasil kotoran ternak sapi dialirkan langsung ke dalam kolam ikan dan sebagian lagi diolah untuk menjadi kompos. Kotoran sapi yang dialirkan ke dalam kolam menimbulkan cacing-cacing organik yang menjadi sumber pakan ikan.

#BloggerPeduliMasaDepan Ketika Petani Menabung di Hutan (Day 19)


Dalam benak saya, Madura adalah pulau yang kering dan tandus.Pandangan itu berubah setelah saya berkunjung ke Desa Geger di Kabupaten Bangkalan, Madura. Di sana rumah-rumah penduduk sejuk oleh tanaman-tanaman kayu. Total ada lebih dari 2.800 hektar lahan penduduk yang berubah menjadi hutan.

Dahulu pada tahun 70an, Desa Geger tandus dan kering.  “Daerah ini kritis. Lahan dari sini sampai pinggir jalan sana sama sekali tidak ada tanaman kayu. Hutan jati milik saya dulu hanya bisa ditanami ketela.Tanahnya bercampur kerikil sehingga selalu gagal ditanami, tutur Mussawi.Tokoh masyarakat Dusun Togu bengini menambahkan jika tiap musim kemarau tanaman akan mati karena kekurangan air atau terbakar.

Perjalanan Menuju #WEGIGoesToSemenPadang



Memenangi kesempatan sebagai tamu khusus di acara ulang tahun sebuah perusahaan semen tertua di Indonesia adalah suatu pride tersendiri bagi saya. Awalnya, saya mengira bahwa lomba blog yang digawangi oleh Komunitas We Green Industry (WEGI) ini bertujuan menjaring 50 orang yang akan diajak berkeliling Bukit Tinggi dan plant visit ke PT Semen Padang. Ternyata, lomba blog itu hanya memilih lima orang blogger, termasuk saya. Informasi kemenangan ini justru saya dapatkan dari chatting-an Manda di grup whatsapp Blogger Cantik Jogja. Info kemenangan WEGI plus first giveaway-nya Teh Nia Haryanto. TOTALLY SURPRISED, dooong pastinya. Terimakasih ya Para Emak keceeee :*


#BloggerPeduliMasaDepan Ruang Terbuka Hijau, Mari Kita Wujudkan Bersama (Day 17)



Setiap kota sebaiknya memiliki minimal 30% ruang terbuka hijau agar tetap sehat. Sehat di sini dalam arti, udaranya bersih, polusi minimal, hingga kejadian banjir yang rendah.

Jakarta berbenah, beberapa tanah milik pemerintah diambil kembali dengan merelokasi penduduk di atas tanah tersebut, demi mengalih fungsikan tanah itu menjadi ruang publik yaitu ruang terbuka hijau. Sepenggalan kalimat di atas sering kita dengar akhir-akhir ini. Apalagi soal Kalijodo yang relokasinya beda dari daerah yang lain. Keanekaragaman penghuninya menjadikan polisi ikut turun tangan. Bahkan Bapak Kapolri ketika diwawancarai sebuah stasiun televisi, pernah berkata, "Kalijodo itu penduduknya ada yang kriminal. Mulai dari kasus produksi minuman keras, banyak preman, hingga lokalisasi. Banyak orang yang berkepentingan di sana, makanya butuh pengawalan polisi."

#BloggerPeduliMasaDepan Cantik - Cermat - Cinta Lingkungan, Yuk! (Day 16)



Bicara soal cantik, saya percaya tiap perempuan terlahir dengan kecantikannya sendiri. Standar manusia saja yang membuat cantik menjadi berjenjang. Secara tidak sadar, manusia juga yang membuat definisi cantik menjadi sangat sempit. Ditambah lagi, iming-iming iklan produk kosmetik tak luput membangun image cantik: bahwa cantik itu identik dengan kulit putih, bening, mulus, dst. Demi orientasi dan tujuan ekonomi, iklan dibuat sesempurna mungkin. Tidak salah, lha wong mereka berbisnis.

Di pasaran pun kalau kita perhatikan, ada banyak produk kosmetik—yang ini, yang itu, yang anu, yang high class, mediocre, hingga kelas underground (baca: ilegal)—berebut mencari pasar potensial: perempuan. Ibarat api berjumpa bensin, ya sudah, banyak perempuan on fire kalau sudah berurusan dengan keinginan menjadi cantik dan awet muda kalau bisa selamanya. Saya pun demikian. *uhuk!

#BloggerPeduliMasaDepan Mengurangi Dosa Dengan Menggunakan Clodi (Day 15)


Perkenalkan, nama saya Ismawati, seorang ibu rumah tangga. Anak pertama saya berumur hampir 5 tahun, yang kedua memasuki usia 19 bulan. Sebagai ibu dari dua anak yang masih kecil-kecil yang sehari-hari di rumah tanpa asisten rumah tangga membuat saya membutuhkan bantuan untuk meringankan tugas saya. Dan si popok sekali pakai jadi solusi buat saya. Popok sekali pakai dengan segala kemudahannya membuat saya tak terlalu repot dengan urusan cucian kotor. Memang praktis sekali kan, tinggal pakai, dan lempar ke tempat sampah setelah digunakan.
Saya sudah mulai memakaikan popok sekali pakai pada anak pertama sejak usianya 7 hari. Waktu itu fisik saya yang kelelahan membuat saya tak sanggup untuk selalu mengganti popok kainnya setiap 15 menit. Sejak itu saya jadi akrab dengan benda ini. Ketika anak kedua lahirpun saya juga gunakan popok sekali pakai untuknya. Pernah sih saya mendengar tentang sisi negatif popok sekali pakai tapi waktu itu saya masih rada cuek dan kurang sadar lingkungan, hiks...
Sampai akhirnya saya benar-benar membaca tentang popok sekali pakai. Popok sekali pakai memang sudah jadi produk yang populer bagi orangtua yang memiliki anak kecil. Meski begitu, ada beberapa bahaya lingkungan dari penggunaannya. Popok sekali pakai tidak hanya menyebabkan timbunan sampah, tapi juga ada dampak serius pada lingkungan dan manusia. 

#BloggerPeduliMasaDepan Mengonsumsi Bahan Pangan Organik, Hidup Jadi Lebih Sehat (Day 14)



Good people, tentunya anda pernah mendengar tentang makanan organik bukan? Saat ini makanan berbahan dasar organik sedang trend di dunia kuliner dan senantiasa menjadi pembicaraan yang menjamur bak kacang goreng. Bahkan sejumlah pelaku bisnis makanan seolah-olah  berlomba untuk menawarkan dan menyajikan masakan mereka yang berbahan dasar organik. Mulai dari restoran-restoran, cafe-cafe maupun gerai-gerai makanan, kini telah hadir khusus menyuguhkan makanan organik sebagai label bisnis mereka. Bahkan trend makanan organik ini bisa good people temukan tidak hanya di kota-kota besar, di kota kecil pun telah bermunculan restoran ataupun cafe berbasis makanan organik dengan mudah.

#BloggerPeduliMasaDepan Memanfaatkan Lahan Sempit untuk Berkebun (Day 13)


Memiliki kebun sendiri merupakan dambaan hampir semua orang, terutama ibu-ibu karena selain menghemat biaya belanja juga sayur dari kebun sendiri lebih organik. Bagaimana dengan beberapa orang yang tidak memiliki lahan di samping atau belakang rumah untuk berkebun? Sedangkan belakangan ini pembangunan perumahan mulai mendominasi pemukiman di hampir seluruh pelosok tanah air di mana hampir rata-rata perumahan tidak memiliki lahan yang cukup luas untuk dijadikan tempat menanam tanaman ataupun berkebun. Berikut kami bagikan tips untuk mensiasati rumah di perkotaan maupun perumahan dengan minim lahan untuk bercocok tanam.


Cabe dari lahan sendiri

[INFO WISATA] AYO BERWISATA KE SUMATERA VIA SELAT SUNDA



Nggak sedikit orang yang enggan pergi ke Sumatera dengan alasan akses transportasinya nggak nyaman. Dari Pulau Jawa ke Sumatera emang lumayan butuh biaya gede kalo harus lewat jalur udara. Apalagi kalau dari Pulau lainnya yang harus transit pesawat sampe dua atau tiga kali. Paling solusinya adalah berburu tiket murah. Tapi adakah opsi lain yang lebih nyaman sekalian nyari hiburan dalam perjalanan ke Pulau Sumatera?

ADA BANGET! Coba aja pakai jasa kapal laut alias menyeberangi Selat Sunda.

Ah males banget. Kapalnya kumuh. Harus bayar-bayar pula meski udah di dalam kapal.

Iya, saya dulu juga gitu.  Males banget kalo ada perjalanan ke luar pulau kalo nggak dibiayai negara plus kantong lagi kering, karena itu artinya saya harus menumpang kapal. Tapi sekarang enggak lagi. So, saya merasa harus merangkum alasan kenapa kamu juga harus menikmati perjalanan lewat jalur Selat Sunda. Bukan lagi karena alasan ngirit semata, tapi juga kenyamanan perjalanannya layak dipertimbangkan.

#Blogger Peduli Masa Depan Water To Energy (Day 12)


Waktu jalan-jalan ke Cidaun Cianjur Selatan, Kami sekeluarga melihat pemandangan sungai yang lebar dengan arus yang cukup deras. Ditambah dengan adanya air terjun dan ombak pantai yang tinggi. Hmm… seharusnya itu sudah cukup untuk membuat Cianjur Selatan kaya tanpa harus mengeksploitasi pasir besi. Eh… emangnya selama ini siapa yang kaya dari pasir besi ya? Krik krik… krik krik….

Dulu sering lihat penggunaan air sebagai sumber energi di film kartun buatan amerika. Ada kincir angin yang bisa menggerakkan mesin penggiling gandum. Atau seperti di doraemon, untuk menggerakkan mesin pertanian. Iyaa… Cuma di film kartun, kalau melihat dengan mata kepala sendiri, belum pernah….. Hihihi… kasian banget.

#BloggerPeduliMasaDepan 5 Manfaat membawa air sendiri di botol minuman (Day 11)




Sebenarnya apa sih yang paling kita butuhkan di dunia ini? Cinta? Ya, mungkin benar, tapi ini bulan lagi ngomongin baper-baperan. Secara fisiologis manusia butuh udara dan air untuk kelangsungan hidupnya, ya kan? Tanpa oksigen kita nggak bisa nafas, eh mati dong? Nah, tanpa air kita juga bisa dehidrasi dan dapat menyebabkan kematian kalau dehidrasinya berlanjut lho. Contoh saja ketika anak demam dan panas, yang jadi parameter kegawat daruratannya adalah pada status kecukupan cairannya. Selama anak masih mau minum dan mengkonsumsi cairan, maka kegawat daruratannya lebih rendah dibanding anak yang tidak mau mengkonsumsi cairan dan ubun-ubunnya sampai cekung. Beneran bukan tingginya suhu tubuh semata yang jadi parameternya.

#BloggerPeduliMasaDepan Simpanlah Air untuk Anak Cucu Kita (Day 10)

 



Ketika bangun tidur apa yang pertama kita lakukan? Cuci muka, gosok gigi? Wudlu, mandi, mencuci. Semua kegiatan yang kita lakukan tidak pernah lepas dari yang namanya air. Air untuk kehidupan. Tak ada air tak ada kehidupan. 

Air Awal Mula Kehidupan

Di dalam Al-Quran Surat Al-Anbiya: 30. Allah berfirman bahwa:

"Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?"

SUPERSOCCER HADIRKAN MUTV DI INDONESIA


 
Foto: iptvlinks.com

Halloooo Machunian... Holligan dan kawan-kawannyaaaa!!!

Tumben-tumbenan nih saya manggilin para fans Si Setan Merah. Guess what, saya punya berita baik loh tentang perkembangan dunia digital. Hmm.. dunia digital... club sepak bola... ada hubungannya gitu? ADA! Simak yuk!

Perkembangan teknologi komunikasi digital yang kian pesat telah memudahkan kita dalam mengakses beraneka ragam informasi.  Termasuk juga bagi para penggila sepakbola, yang semakin membutuhkan informasi lengkap dan mutakhir, mulai dari jadwal pertandingan, klasemen, bursa transfer pemain, hingga berita sehari-hari mengenai perkembangan klub dan pemain favorit.

Setelah menghadirkan aplikasi ponsel SuperSoccer Apps, sebagai penyedia aneka informasi tentang sepak bola dunia, Super Soccer kini menyediakan fitur baru, yaitu layanan video SuperSoccer TV. Dengan layanan ini, para penggila bola dapat menikmati highlights liga-liga Eropa: Premier League, Serie A, Ligue 1, gol-gol cantik, hal-hal unik dalam sepak bola, serta berbagai video menarik lainnya seputar sepakbola dunia. Kini SuperSoccer TV secara khusus menghadirkan kanal sepakbola bagi para penggemar Manchester United, yaitu MUTV.

#BloggerPeduliMasaDepan Ciptakan Sungai Bersih Ala Mamah Muda (Day 8)


Sudah hampir dua tahun saya tinggal di rumah mertua yang letaknya persis bersebelahan dengan sungai kecil. Awal-awal menetap gak kepikiran bakal ngalamin banjir, namanya juga manten baru yak, haha, heppiii terus.

Masuk akhir tahun, saya pun mengalaminya, hujan menderas dalam kurun waktu 4 jam non stop, merata seluruh Medan, air sungai pun meluap dan masuk ke dalam rumah pelan tapi pasti. Saya shock, panik nyelametin barang, suami mah nyante banget T_T karena udah terbiasa, nah kalo sayaaa…?

Di tahun 2014 saja sudah dua kali saya alami banjir, masuk tahun 2015, lebih parah, dua kali lipat, 4 kali kami alami kebanjiran. Tahun 2016, awal Februari banjir kembali menyapa.

#BloggerPeduliMasaDepan Dari Tulus untuk Gajah Sumatera (Day 8)




Setidaknya punya tujuh puluh tahun
Tak bisa melompat kumahir berenang
Bahagia melihat kawanan betina
Berkumpul bersama sampai ajal

Besar dan berani berperang sendiri
Yang aku hindari hanya semut kecil
Otak ini cerdas kurakit berangka
Wajahmu tak akan pernah aku lupa

#BloggerPeduliMasaDepan BANK SAMPAH MALANG (Day 7)



Bila kita berbicara tentang"sampah" pasti yang terbayang dalam ingatan kita adalah barang-barang bekas yang sudah tak terpakai, yang sudah tidak kita inginkan dan tidak ingin kita simpan, dan mungkin sebagiannya malah menjijikan bagi kita. Sebagai barang yang sudah tidak kita inginkan, biasanya sampah itu ingin kita buang. Nah setelah sampah itu kita buang biasanya masalah akan timbul terutama untuk sampah jenis tertentu. Tidak bisa disangkal bahwa sampah telah menjadi persoalan tidak hanya di kota besar, bahkan di kota kecil pun sudah bisa dirasakan dampak dari persoalan ini. Berbagai jenis sampah yang berada di perkotaan terlihat menggunung di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) dan belum lagi yang terlihat berserakan di sekitar perumahan penduduk kota. Sedangkan yang di pedesaan belum begitu terlihat, tetapi untuk dampaknya akan terasa dalam jangka panjang, karena akan mempengaruhi dan merusak lahan pertanian. Dan negara kita adalah negara agraris yang sebagian besar penduduknya bercocok tanam. Hal ini tentunya akan menjadi masalah besar kelak bagi para petani khususnya dan negara secara luas.

#BloggerPeduliMasaDepan Aksi Ciamik Olah Sampah Plastik (Day 6)



Sejak 21 Februari lalu, para pegiat lingkungan boleh sedikit bergembira setelah Pemerintah mengeluarkan kebijakan kantong plastik berbayar. Berita lingkungan kembali naik ke permukaan, menghiasi halaman demi halaman linimasa media sosial. Tak ketinggalan, sulit dan bahayanya sampah plastik turut kembali dikampanyekan dengan harapan masyarakat mulai peduli dan lebih bijak mengonsumsi bahan pembungkus yang sulit terurai ini.

Uji coba penggunaan kantong plastik berbayar diterapkan di 21 kota seluruh Indonesia. Maka, perhatian media massa pun berpusat di kota-kota percobaan tersebut. Tentang penerapan kebijakan, tanggapan masyarakat, termasuk tentang kebijakan daerah tertentu yang ternyata memberlakukan harga lebih tinggi dari yang ditetapkan pemerintah pusat.

Yang perlu kita ingat dan kadang luput dari perhatian media, Indonesia ini luas sekali dan memiliki banyak potensi daerah yang jarang diketahui masyarakat. Sekarang saya sebutkan satu kota deh, Bontang. Apa yang teman-teman ketahui dari kota ini selain letak geografisnya yang ada di Kalimantan Timur?

#BloggerPeduliMasaDepan Menyayangi Sampah Kita (Day 5)



Lima tahun lalu, saya pernah residensi di Tangerang, tepatnya di Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga. Desa itu adalah desa nelayan. Pada saat santai, pernah saya dan teman-teman mengarungi laut menuju pulau Rambut. Pulau itu kecil. Namun yang mengejutkan buat saya adalah pulau yang seharusnya menjadi cagar alam itu dipenuhi sampah. Iya, sampah!

#BloggerPeduliMasaDepan DIET KANTONG PLASTIK AGAR HIDUP LEBIH ASYIK (Day 4)



Halo ! Bagaimana hidupmu? Apakah kamu dan lingkunganmu telah bahagia? Semoga saja air hujan yang turun, sinar matahari yang selalu hadir, tanah yang selalu dipijak serta langit yang selalu ditatap semuanya bersuka ria.  Lalu bagaimana dengan laut?

Indonesia sebagai Negara Maritim dimana 2/3 dari seluruh teritorialnya adalah lautan. Tentunya sulit untuk meragukan keindahan lautan Indonesia dari sabang sampai merauke. Tapi buddies, ada yang tersisa dari keindahan itu, adalah sampah plastik yang jumlahnya jutaan ton. Bagaimana tidak? Tiap menitnya, lebih dari satu juta kantong plastik yang digunakan dan itu pun hanya satu kali pakai. Sedangkan sampah plastik di laut membutuhkan waktu 450 tahun untuk bisa terurai dan 1000 tahun waktu untuk mengurai sampah plastik di dalam tanah. Ibu Tuti Hendrawati, Dirjen pengelolaan sampah, limbah dan B3 KLHK, memprediksikan sampah plastik di Indonesia akan mencapai 9,52 juta ton di tahun 2019. 14% dari total jumlah sampah yang akan mencapai 68 juta ton. Indonesia pun masuk ke dalam peringkat kedua dunia sebagai  penghasil sampah plastik ke laut setelah Tiongkok. Malu kan buddies??