Kontemplasi Dini Hari di Akhir Februari

“Udah lama yah nggak chatting jam segini...” kata HB lewat Whatsapp.

Ya, sudah sangat lama. Begitu pun dengan hari ini. Sudah sangat lama sejak nggak ada tanggal 29 Februari. Dan ketika ada tanggal ini lagi, artinya Tuhan memberikan waktu lebih untuk bisa dimaksimalkan.

Terbangun, berpikir dan tergerak untuk mengambil air wudhu memang sudah sangat jarang terjadi di dini hari seperti ini. Kalau nggak gara-gara suhu udara terlalu dingin, pasti karena tubuh sangat capek. Kalau capek, itu tandanya ada pola yang benar dari keseharian. Harusnya, bangun tidur itu segar. Meski tidurnya sebentar, yang penting kualitasnya. So, tidur saya beberapa waktu ini nggak berkualitas? Lantas apakah dengan tidur yang nggak berkualitas itu hidup saya justru lebih berkualitas?

GREEN MANUFACTURING, ETIKA INDUSTRI RAMAH LINGKUNGAN (Studi Kasus PT Semen Padang)




Pembangunan memang tidak bisa dipisahkan dari dampak buruknya berupa kemerosotan kualitas lingkungan. Hal itu banyak terjadi di sekitar kita. Pendeknya, untuk membangun rumah saja, tetua kita dulu menebang pohon, ada yang istilahnya tebas huma. Apalagi pemborong property saat ini banyak menamai proyeknya sengan sebutan green hills, green estate, green view dan aneka ‘green’ lainnya yang notabenenya di bangun di atas bukit yang tak lagi berpohon, lalu darimana ‘hijau’-nya?



Kita tak pernah dapat memungkiri hal itu.Pembangunan harus terus berjalan. Setidaknya  para pelaku industri bisa menerapkan konsep green manufacturing. Sistem Manajemen lingkungan dikembangkan untuk memberikan panduan dasar agar kegiatan bisnis senantiasa akrab dengan lingkungan. Kondisi lingkungan yang memburuk akibat kegiatan manusia (yang pada gilirannya akan merusak tempat hidup bersama) sudah waktunya untuk dikendalikan.

Baca juga: [GIVEAWAY] #BloggerPeduliMasaDepan


4 PEMPEK ENAK DI KALIANDA




pempek enak di lampung kalianda
Foto: Pempek Belle

Menjadi bagian dari Sumatera Bagian Selatan membuat Lampung juga memiliki kekhasan yang mirip dengan Provinsi Sumatera Selatan. Termasuk untuk urusan makanan. Makanya, pempek juga sangat menjamur di Lampung. Perkembangan industri pempek di Lampung juga nggak bisa dianggap remeh. Sekarang sudah mulai banyak Pempek asal Lampung merambah kota-kota lain bahkan luar negeri. Padahal owner-nya aja belum pernah ke luar negeri.

Sebagai serambi Sumatera, kota kecil Kalianda menjadi bagian yang serius menggarap sektor pariwisatanya. Sebagai dampaknya, oleh-oleh dari Kalianda semakin banyak dan berkembang. Sebut saja pletekan yang mirip pilus, tapi beda. Mirip snack asal Banjarmasin tapi beda juga. Kalau yang dari Banjarmasin rasanya cenderung manis, kalau pletekkan ini gurih. Next time deh saya bahas pletekan dari Kalianda.

Martabak Tropica, Martabak Manis Paling Enak di Bandung Juara



martabak enak di bandung martabak tropica

Saya jatuh cinta kepada Kota Bandung sejak sekitar tujuh tahun silam. Waktu itu saya menjalani kerja praktek di LIPI Subang dan membuat saya selalu ke Bandung setiap akhir pekan. Selain udaranya yang sejuk, saya selalu ingin kembali ke Bandung karena di sana makanan enak berlimpah-ruah. Rasa yang selalu enak dengan harga bervariasi memberikan kenyamanan tersendiri bagi saya. Semua bebas pilih sesuai budget.

Long weekend kemarin saya pergi ke Bandung untuk menghadiri acara pernikahan seorang sahabat. Kebetulan sahabat yang menikah itu tetangganya HB dan melalui dialah saya juga bisa kenal HB. Err.. fine, bukan di Bandung sih sebenarnya. Tapi di Cimahi, tetangganya Bandung tapi sepertinya masih sah aja kalau saya bilang Bandung.*udah iyain aja*

Baca juga: The Unforgettable Bandung di Musim Penghujan

Udara dingin dan hujan membuat saya enggan kemana-kemana. Paling hanya nonton film berdua aja. Malas kemana-mana karena hari sebelumnya udah hujan-hujanan dari kampus UNPAD Jatinangor. Kebetulan stok filmnya HB banyak banget dan saya lagi keranjingan nonton drama. Biarlah tontonan aja yang drama, hidup enggak.

“Maaf, Mbak. Kembaliannya kresek aja, ya!”


plastic pollution kills; before you make a purchase think about the waste you could create #eco:
Foto: Pinterest

Mungkin itu hanya kekhawatiran berlebihan saya. Atau mungkin imajinasi saya yang terlalu tinggi. Tapi kok saya takut kalau hal itu benar-benar jadi kenyataan. Faktanya, harga kantong kresek di minimarket lebih murah daripada permen yang biasa digunakan sebagai pengganti uang receh kembalian.

Semalam saya pergi ke sebuah minimarket yang menjamur dimana-mana itu lho. Sebelum ke kasir, saya mendengar ada seorang ibu yang berceramah bahwa pemerintah nggak becus untuk sekedar ngurusi sampah. Kemudian Si Mbak kasir yang memang sudah kenal dengan saya bilang, “Mbak, pasti udah bawa tas sendiri, ya?” sambil melirik ke ibu itu.

 “Masak kayak di luar (negeri) aja. Kresek aja harus bayar!” ternyata si ibu itu mantan TKW di luar negeri.

Warkop Udin Wati, Mendunia Meski Bersahaja




Capek abis jalan keliling kota langsung pulang ke rumah  terus gogoleran? Enggak gue banget! Abis keliling dari Cibaduyut, HB malah ngajak saya ke Warkop Udin Wati. Honestly, yang pertama nemuin Warkop yang nama yang nggak biasa ini tuh saya! Saya nemu di instagram, terus saya bilang ke HB. Eh malah HB yang jadi langganan ke sana. Katanya, meski tempatnya mungil, tapi asik banget orang-orangnya. Gitu katanya.

Jadi sebagai pendukung #AngkotDay, kami emang keliling naik angkot. Terus ke Uwat juga jalan kaki. Lumayan sih jarak dari depan gang ke kedainya. Tapi nggak sejauh Oldmills Coffee. Apalagi jalan sama HB, kan jadi nggak berasa walau nenteng belanjaan. #SawerAdekBang!

Ika Koentjoro, Blogger Berkalung DLSR



Pernah dengar ungkapan bahwa kalau kita berteman dengan pedagang parfum, kita akan kecipratan wanginya? Err... gimana sih ya kata-katanya? Pokoknya intinya kalo kita berteman dengan orang baik, berprestasi, soleh dan solehah, sukses, insyaa allah kita juga bakal kecipratan kebaikan-kebaikannya.

Bergumul dengan emak-emak di komunitas Kumpulan Emak Blogger pun demikian. Mereka adalah wanita-wanita super yang di tengah kesibukannya bekerja, berwirausaha, dan mengurus rumah tangga selalu punya waktu ekstra untuk berbagi. Bukan sekedar lewat tulisan di blog pribadi, bahkan di buku yang komersil, melalui foto, bahkan melalui tulisan orang lain yang mencatut nama mereka. Menuliskan tentang blogger-blogger kece mungkin juga akan menularkan kekecean mereka kepada saya, yah. Welcome to the hastag #MyBloggerMate, dude!

The Unforgettable Bandung di Musim Penghujan




Jalan-jalan di Bandung mah nggak pernah ada habisnya. Setelah semua wisata alam disambangi, wisata kulinernya nggak pernah selesai berbenah diri. Adaaaaa... aja terus tempat baru yang lucu-lucu. Kalau dulu kita cukup percaya dengan rasa yang enak dan kebersihan dari suatu tempat makan, sekarang udah nambah lagi syaratnya. HARUS INSTAGRAMABLE!

So, kalau saya mau ngejar trend untuk mengunjungi tempat-tempat semacam itu nggak akan pernah merasa puas. Saya memilih cara yang berbeda untuk menikmati Kota Bandung. Menikmati setiap jalanan dan pemandangan orang-orang di Bandung sambil hujan-hujanan. Bukan bermaksud india-indiaan tapinya. Saya lebih memilih menikmati momennya. Momen bersama siapa perjalanan itu saya lakukan dan menghargai sekecil apapun kebahagiaan yang dihadirkan.

Bongkar Tas Seorang Job Hunter



Hallo! Teman-teman nyadar nggak sih kalau URL blog saya ini udah berubah? *anyone cares, huh?* Yeiyyy! Thanks to Miss Fenny yang udah bikin Babybluevita jadi lebih Indonesia. Kemarin malam aja nggak nyadar saya kalo udah berubah, jadi ulang tahunnya nanti bareng sama Raffi Ahmad.#penting

Salam kenal Mbak Waya Komala! Ide giveawaynya keren banget loh. Kadang-kadang pamer isi tas itu penting juga yah buat ngasih informasi orang-orang kepo. Haha... itu kan kalo otak-otaknya pada negatif ya. Bukan itu sih goal utamanya, siapa tau orang lain jadi terinspirasi dari kebiasaan (baik) yang kita lakukan sehari-hari.

Honestly, tas yang saya pakai sehari-hari suka beda. Saya bukan tipe yang selalu pakai satu tas sampai kucel. Kalau daypack alias ransel emang udah kucel banget. Secara dari jaman kuliah S1. Untuk keseharian saya suka banget pakai tote bag. Saya punya beberapa tote bag dengan warna beda-beda. Saya memakainya sesuai dan agak di-matching-in lah sama warna baju.

Saya emang suka banget tote bag yang sederhana gitu. Apalagi tas yang berbahan kain. Syaratnya kalau mau jadi tas saya harus kuat, enggak gampang mewek robek karena bawaan saya pasti berat. Syarat kedua, harus besar. Walaupun tampilannya nggak besar, tapi muat segala-gala yang saya butuhkan sehari-hari. So, ada yang mau jadi tas saya? Hihi.

Warisan Kopi, Berdamai dalam Hangatnya Suasana




Halloooo! *menyapa pake toa*

Kali ini saya pengen cerita tentang salah satu kedai kopi yang cukup berkesan di #BerceritaCimahi. Kalo HB sih emang udah langganan ke sini. FYI, dia emang ngajaknya ke kedai-kedai yang udah pernah dia sambangi sebelumnya. Entah itu good or bad review dari dia, dia tetap merekomendasikan ke saya. Ini sih tujuannya untuk mencari second opinion. Siapa tau yang menurut dia bagus, menurutku enggak. Atau sebaliknya. 

Jadi setelah kami jalan-jalan city tour naik Damri untuk pertama kalinya dalam sejarah, saya diajak ke Warisan Kopi. Letaknya sih di pinggir jalan banget, di Sangkuriang. Beda dengan Oldmills Coffee dan Warkop UdinWati yang didalam gang. Cuma kalo yang nggak tau dan kurang aware sih mungkin nggak nyangka kalo kedainya nyelip di salah satu gedung.

Terimakasih Pak Ari, Terimakasih Mass Market di Sekitar Saya



Tinggal di Yogyakarta tanpa mempunyai kendaraan pribadi konon akan menyulitkan. Yap, ketersediaan kendaraan umum di Yogyakarta sangat terbatas. Jika pun ada, saya harus rela menunggu lama untuk sekedar berdesakan dan bergelantungan di dalam bus bersama dengan penumpang lainnya. Sangat disayangkan memang, pertumbuhan kendaraan bermotor pribadi di Yogyakarta sangat cepat mengikuti arus pendatang dan pertumbuhan penduduk di kota itu. Meski warganya telah memiliki kendaraan sendiri, para pelancong tetap butuh angkutan massal untuk menikmati Yogyakarta yang katanya istimewa sehingga angkutan umum selalu penuh.

Saya tidak membeli sepeda motor untuk keperluan mobilitas saya. Saya percaya bahwa saya bisa bertahan meski tanpa harus membebani hidup dengan biaya kredit kendaraan bermotor. Akhirnya, setelah sebulan ke kampus dengan berjalan kaki, saya bisa membeli sepeda dengan uang beasiswa. Saya menamainya Wimmy, sepeda yang siap sedia membawa saya berkeliling kota kapan saja.
Me and My Wimmy